KAIZEN and GEMBAKAIZEN

Memang sering kita memintas dengan mengatakan bahwa budaya kita
lain dengan budaya Jepang. Bahkan yang memprihatinkan seringkali
ini dijadikan dalih untuk mempertahankan status quo.
Namun perlu diingat bahwa budaya kerja Jepang yang sekarang,
bukanlah seluruhnya berasal dari budaya Jepang kuno. Budaya
Jepang (terutama budaya kerjanya) yang sekarang mulai dirintis
pada sekitar tahun 1950 an. Ketika ada perang Korea dan Jendral
McArthur memberikan bantuan membangun kembali industri Jepang
(ingat Deming, Juran dan juga TWI).

Budaya Jepang kuno sih mirip dengan kita, seperti agak feodal
(tunduk/menghormati orang yang lebih senior/tua), semangat
bushido (pejah gesang nderek pangeran), tribalisme (geng-gengan
yang dihaluskan menjadi semangat kelompok). Sedang budaya kerja
Jepang yang baru muncul karena ditabur dan direkayasa secara
sengaja (dengan rekayasa yang tepat). Ini masalah proses
cultivation dari budaya asal menjadi budaya kerja yang produktif,
dengan memanfaatkan masukan-masukan baru. Bagaimana mengalihkan
kesetiaan tribal menjadi kesetiaan terhadap perusahaan, bagaimana
semangat mencari yang lebih baik bisa terus dikembangkan.

Saya masih belum paham bagaimana para manajer di Jepang bisa
mencapai tingkat pencerahan dan penyadaran bahwa transformasi
budaya kerja perusahaan adalah tanggung jawab mereka sepenuhnya
yang perlu diupayakan mati-matian. Kalau kita bandingkan program
pembinaan pola pikir kolektif karyawan kita dengan mereka, maka
kita harus akui bahwa kita belum apa-apanya.

> Kalau pengalaman saya kita harus melakukan pendekatan sistem dalam
> mengatasi masalah di indonesia
> terutama pada “human approach”. Karena kita kadang salah melihat
sistem
> kerja orang Indonesia.

Betul human approach, tapi bagaimana hal itu diterjemahkan ?
Saya rasa, kita harus mencari cara menanamkan pola pikir
produktif dalam benak orang-orang kita (atau karyawan dari
satu perusahaan). Nah ini harus melalui edukasi secara
masive serta keteladanan atasan yang terus menerus.

> Sistem kalau kita definisikan adalah terdiri dari elemen-elemen
yang
> berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu….
>
> Tapi kadang kita salah mempersepsikan sistem itu dari awal. Atau
salah
> melihat sistem.
>
>

Apakah ini masih dalam konteks bahwa rakyat Indonesia yang hidup
dengan alam dan iklim tropis yang serba ramah dibandingkan dengan
mereka yang hidup di belahan utara dengan iklim yang tak bersahabat?
Maksudnya karena kita hidup di “kolam susu” yang gemah ripah,
akibatnya kita tidak melihat tantangan untuk lebih produktif ?
Atau trauma kekalahan Jepang pada PD II yang menyadarkan mereka
jadi punya semangat kompetisi?

Saya setuju dengan persepsi yang perlu terus ditajamkan. Ada banyak
orang kita atau pekerja kita yang punya masalah dalam bekerja,
namun mereka tidak menyadari bahwa mereka punya masalah. Semuanya
dianggap normal, tidak ada yang abnormal, bahkan kalau target
kinerja tak dicapai sekalipun, masih dianggap normal (ngga ada
masalah). Saya gunakan istilah pola pikir kolektif untuk itu.
Masalahnya adalah bagaimana kita memberikan pencerahan masal
dalam hal ini?

> Jadi apa kesimpulannya semua hal di atas adalah relatif….. .
>
> Nah kadang kita melihat atau mempersepsikan suatu problem sudah
salah…,
> kemudian kita perdebatkan persepsi yang salah itu tanpa ada
ujungnya.
> jadi suatu hal yang sudah distorsi kita buat lebih distorsi
lagi… ya..
> enggak akan selesai-selesai. …Jadi harus sama dan benar dulu
persepsinya
> baru kita pecahkan…

Itulah yang saya tekankan, budaya kerja produktif muncul karena
pola pikir kolektif yang juga produktif dalam suatu masyarakat
(perusahaan, daerah, negara). Bila kita mampu merekayasa dan
memanajemeni pola pikir kolektif yang produktif, katakanlah
dalam masyarakat perusahaan yang terbatas, maka persepsi bisa
kurang lebih sama.

Eksekutif kita seringkali melupakan bahwa pembentukan pola pikir
di jajaran perusahaannya adalah perkara strategis yang perlu
dilakukan sepanjang masa.

Saya bukan skeptis terhadap teori, tapi yang justru lebih
penting adalah bagaimana teori tersebut bisa disosialisasikan
dan diwujudkan dalam masyarakat industri, membentuk pola pikir
kolektif dan budaya industri yang tangguh. Kalau saja semua
praktisi TI (Teknik Industri) memahami bagaimana pekerja Jepang
(karyawan biasa, bukan staff) tahu benar (mendalam) soal teknik tata
cara, QC, lay-out, metode kerja, gantt chart dsb. sehingga mereka
mampu melakukan perbaikan mandiri. Maka mungkin pendekatan mereka
terhadap dunia kerja di industri tidak seperti sekarang.
Praktisi TI tak lagi sekadar memberikan usulan perbaikan dan
menangani perbaikan, namun akan lebih mengutamakan pembinaan
masal membentuk pola pikir kolektif dalam masyarakat industri
dalam perusahaannya.

Salam,
Kristianto Jahja
KAIZEN Institute, Ltd.

Leave a comment

Filed under Industrial Engineering

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s